image

Artikel

Kategori

Khasanah Cerita Negri Dongeng Bernama Indonesia

oleh kak Dandi Ukulele

Alkisah, hiduplah seorang pangeran gagah berani dari Makassar bernama Sawerigading. Selain gagah dan berani, ia juga pandai membuat perahu megah nan perkasa yang mampu menerjang samudera hingga ujung dunia. Bahkan hingga kini, kemegahan serta keperkasaan perahu tersebut masih bergaung di seantero bumi. Dan perahu tersebut bernama, Phinisi.

Secuplik tulisan diatas adalah sebagian cerita dari kisah “Sawerigading dan Asal Mula Phinisi”. Cerita yang pernah saya bawakan bersama rekan saya Kak Arnel dalam Festival Dongeng Internasional Indonesia (FDII)2016 yang dihelat pada November 2016 lalu oleh teman – teman dari Ayo Dongeng Indonesia. Kisah tersebut adalah hasil interpretasi ulang kami setelah membaca epos kuno Sulawesi Selatan yaitu “La Galigo”.

“La Galigo” merupakan satu dari sekian banyak kisah epik-klasik yang di punyai Indonesia. Kisah ini merupakan cerita tentang penciptaan dari peradaban Bugis. Didalamnya terdapat cerita – cerita kepahlawanan dan kehebatan bangsa yang dikenal tangguh di lautan itu. Kisah yang dahulu selalu diceritakan orangtua kepada anaknya, lalu berlanjut kepada cucunya, hingga kemudian ke generasi – generasi selanjutnya. Yang lalu membentuk tatanan perilaku serta cara hidup masyarakat disana melalui tradisi lisan yang selalu terjaga. Kini, sebagian manuskrip dari kisah tersebut tersimpan di perpustakaan Koninklijk Instituut voor Taal-Land- en Volkenkunde Leiden, Belanda. Konon, versi lengkap dari “La Galigo” ini merupakan kisah epos terpanjang sedunia.

Galigo.jpg

Gambar 1: Manuskrip La Galigo

Beralih kebagian barat Indonesia, Sumatera Barat juga punya karya serupa yang menjadi landasan tradisi lisan masyarakat disana,“Tambo”namanya. “Tambo” sendiri, jika diartikan dalam bahasa minang berarti sejarah, meski didalamnya tidak sepenuhnya berisi tentang sejarah faktual. Namun, dalam masyarakat Minangkabau, kisah – kisah yang ada didalam “Tambo” merupakan kisah yang diceritakan turun-temurun yang kemudian juga membentuk tatanan perilaku dan cara hidup masyarakat minang. Secuplik kisah yang terdapat didalam “Tambo” mengungkap bahwa asal – usul orang Minang adalah merupakan anak keturunan dari Raja Iskandar Zulkarnain (Alexander the Great) yang berlayar kemudian sampai ketanah Minang. Kisah – kisah kepahlawanan dan kehebatan dalam “Tambo” seperti itu juga yang lalu membentuk karakter masyarakat disana. “Tambo” ditulis dalam bahasa arab dengan panjang mencapai ratusan halaman dan terbagi menjadi 47 bagian. Untuk yang ingin membacanya, kita bisa menjumpai “Tambo” ini salah satunya di Perpustakaan Negara Jakarta.

url.jpg

Gambar 2: Tambo

Dua kitab cerita “La Galigo” dan “Tambo” tadi merupakan warisan dari apa yang menjadi landasan tradisi lisan Nusantara. Jika kita beralih ke tanah Jawa, kita akan menemukan lebih banyak lagi kisah dan cerita. Di Kalimantan, Nusatenggara, Maluku, hingga Papua tentunya kita akan menjumpai hal yang sama. Hal yang selama ini saya alami sendiri. Karena ketika pergi ke daerah – daerah di pelosok Nusantara, hampir pasti saya mendapatkan kisah yang diceritakan secara lisan oleh masyarakat disana. Yang mereka dapatkan juga dari cerita para penduhulunya. Yang memang kebanyakan merupakan kisah – kisah fiksi yang pastinya melampaui batas pemikiran Manusia dan bersifat imajinatif. Namun meski begitu, kisah – kisah tersebut terus berusaha dipertahankan dan disampaikan karena didalamnya terdapat unsur – unsur kebaikan dan keluhuran budaya nusantara. Meski kelestariannya kini sudah mulai tergerus oleh budaya modern yang melanda dunia. Yang membuat semakin sedikit orang untuk mau menggali sumber – sumber cerita untuk kemudian menceritakannya kembali.


Sumber :

Kategori Artikel oleh Diah Kesuma pada 30 Mar 2017