image

Berita

Kategori

Dongeng Kejutan Lombok: Negeri Berselimut Kabut

Oleh Kak Irine.


“... Hiduplah tanahku, hiduplah Negeriku

Bangsaku, Rakyatku, semuanya

Bangunlah Jiwanya, Bangunlah raganya

Untuk Indonesia raya...”


Kekait, 17 Agustus 2017,

Komunitas Ayo Dongeng Indonesia berkesempatan mengikuti upacara peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat. Hal ini, bertepatan dengan rangkaian kegiatan Dongeng Kejutan Negeri Berselimut Kabut yang digelar di Lombok, Nusa Tenggara Barat.


Tepatnya di Laskar Baca Desa Kekait, adik-adik antusias berkumpul untuk mendengarkan dongeng yang dibawakan oleh relawan AyoDI. Diawali dengan dongeng Kisah Ibu Sejati yang dibawakan oleh Kak Bonchie. Berlatar bukit dan langit cerah, dengan semilir angin dan udara segar terbuka. Binar mata ceria dari adik-adik laskar baca seperti menyuarakan ‘Lagi-Lagi-Lagi!’ Kak Bonchie kemudian melanjutkan dongengnya. Kali ini, Kak Bonchie berkolaborasi dengan Kak Yani membawakan Dongeng Conejito.

“Aku punya Bibi, La Tia Monica.
Kalau dia menari, semua bilang...
Ulala...”


Selanjutnya Kak Riska membawakan dongeng Timun Mas, siapa tak tahu dongeng ini? Namun Kak Riska membawakannya dengan menggunakan teknik read aloud. Dengan pembawaan tenang, dan gesture meyakinkan, Kak Riska berhasil merebut perhatian adik-adik. Kegiatan dongeng ini ditutup dengan dua dongeng yang berasal dari tanah papua, yakni dongeng Maserasenani yang dibawakan oleh Kak Irine, dan dongeng Buaya Sakti yang dibawakan oleh Kak Taqarrabie.

Tak berhenti disitu, keceriaan berlanjut dengan berbagai perlombaan khas 17 Agustus. Diantaranya adalah lomba kalung naga yang dipandu oleh Kak Nina dan Kak Itha. Lomba unik yang mengharuskan peserta memindahkan karet gelang sebagai kalung, ke sedotan milik teman satu kelompoknya sebagai naga. Ada pula Lomba Engklek Dongeng yag dipandu oleh Kak Bie dan Kak Ares. Lomba yang paling seru, adik-adik akan mengocok dadu untuk menentukan teman satu kelompoknya maju ke angka aman, atau angka dengan bom. Bagian serunya adalah ketika adik-adik harus mengulang cerita yang dibawakan oleh Kak Bie dalam beberapa kalimmat, untuk melanjutkan permainan. Selain menghibur, lomba ini juga mengedukasi anak dan melestarikan budaya tutur dikalangan anak-anak.

Dongeng Kejutan Negeri Berselimut Kabut di Laskar Baca Kekait ditutup dengan penyerahan hadiah dan donasi buku. Adik-adik kemudian berbaur dersama Kakak-Kakak relawan AyoDI membawakan tarian Baby Shark.

Hari pertama baru saja usai, Kakak-Kakak relawan AyoDI melanjutkan perjalanan ke Kota Mataram, untuk bersiap melangsungkan Dongeng Kejutan Negeri Berselimut Kabut di lokasi ke dua.


Sembalun, 18 Agustus 2017,

Langit masih gelap, udara Kota Mataram cukup dingin untuk ditembus sebuah perjalanan menuju kaki Rinjani. Sekitar 3 Jam perjalanan, akhirnya Kakak-Kakak relawan AyoDI sampai di Desa Sembalun, Lombok Timur. Disambut pemandangan bukit-bukit yang menjulang mengelilingi si cantik Rinjani, ketika matahari mulai menampakkan diri.

Tujuan kami hari ini adalah SDN 1 Satap Bilok Petung, letaknya beberapa kilometer dari pintu Geopark Rinjani, dengan medan jalan berkelok dan naik turun. Kakak-Kakak relawan AyoDI menggunakan mobil Pick Up untuk sampai di sekolah tersebut. “Pengalaman yang gak akan kita temuin di Jakarta!” ujar Kak Itha yang menikmati perjalanan dengan berdiri di atas mobil, menikmati udara sejuk yang berhembus.


Adik-adik SDN 1 Satap Bilok Petung sudah berkumpul di aula saat kami datang. Semangat belajar adik-adik disini tentu luar biasa, mengingat jarak yang mereka tempuh menuju sekolah cukup jauh, dan transportasi yang tidak memadai. Dongeng kali ini diawali dengan kisah 1000 Kucing untuk Kakek yang dibawakan oleh Kak Riska. Kemudian ada Kak Irine yang membawakan dongeng  3 Babi Kecil. Adik-adik semakin bersemangat mendengarkan dongeng saat Kak Bie menceritakan kisah Jerapah yang sombong. Selanjutnya, dongeng Cici Kelinci dibawakan oleh Kak Bonchie! Kak Bonchie menggunakan teknik Story string dalam membawakan dongeng tersebut. Dongeng terakhir dibawakan oleh Kak Yani berjudul Monyet yang suka menunda waktu.


“Yun-ayun-ayun, yun-ayun... Makan pisang! Hap!” kisah si monciprut yang jenaka, menutup perjalanan dongeng di SDN 1 Satap Bilok Petung. Dongeng Fabel yang dekat dengan anak-anak desa, karena kebanyakan dari tokoh fabel yang diceritakan merupakan hewan yang biasa ditemui oleh mereka. Dongeng yang tidak hanya menghibur, namun sarat akan pelajaran. Seperti dongeng Babi kecil dan Monciprut yang mengajarkan agar tidak malas, kemudian kisah Jerapah yang mengajarkan agar tidak menjadi orang yang sombong, dan kisah Cici Kelinci yang mengajarkan agar tidak pelit.

Seperti menjadi tradisi, dongeng kejutan di SDN Satap Bilok Petung ditutup dengan tarian Baby Shark. Ruah keceriaan melimpah di satu ruangan penuh bocah. Tawa lepas yang jadi sumber bahagia, bukan hanya bagi mereka, tapi juga kami sebagai penjaga mimpi dan pembawa cerita. Setelah acara selesai, kemudian Kakak-Kakak relawan AyoDI bergantian menyerahkan buku secara simbolik kepada Bapak Kepala Sekolah. Dan dengan hangat, matahari mengiringi kepulangan kami.



19 Agustus 2017,

Masih di Desa Sembalun, agenda kegiatan Dongeng Kejutan Negeri Berselimut Kabut hari ini adalah Workshop Dongeng dan Dongeng Kejutan. Di Rumah Belajar Sangka Bira yang berada tepat di kaki bukit Pegangsring yang elok, Workshop berlangsung dengan diikuti oleh pengajar PAUD dan TK di Desa Sembalun. Materi Workshop yang dibawakan oleh Kak Yani dan Kak Bonchie diantaranya adalah pengenalan tentang dongeng secara universal, manfaat dongeng, dan teknik dongeng. Beberapa teknik yang disampaikan yaitu, teknik Read Aloud; yaitu teknik dongeng dengan media buku, Storygami; teknik dongeng menggunakan origami atau kertas lipat, kemudian Storystring; teknik dongeng menggunakan tali. Setelah workshop selesai, peserta workshop bergantian mempraktekan beberapa teknik yang disampaikan oleh Kak Yani dan Kak Bonchie.


Setelah kegiatan Workshop selesai, saatnya Dongeng Kejutan! Dongeng kali ini agak berbeda dengan dongeng sebelumnya. Karena lokasi yang sejuk, dengan pemandangan alam yang memanjakan mata, dongeng kejutan di gelar di alam terbuka. Di bawah pohon rindang berlatar bukit Pergasingan diarah selatan, dan Rinjani dengan kabutnya di arah utara.

Setelah Kak Bie dan Kak Klara membuka acara, saatnya Kak Riska mendongeng. Kali ini Kak Riska membawakan dongeng Bawang Merah Bawang Putih. Adik-adik fokus memperhatikan cerita, karena setelahnya ada kuis yang disponsori oleh Kitabercerita.id. Satu persatu mengacungkan tangan, dan maju ke depan. Tanpa takut, tanpa malu. Dongeng selanjutnya dibawakan oleh Kak Irine, dongeng dari Negeri China dengan judul Tiki-Tiki Tembo.“Tiki-Tiki Tembo No Sarembo Chari Bari Ruchi Pi Peri Pembo.” Nama yang berulang kali dirapal Kak Irine, dan menghibur adik-adik. Dongeng Selanjutnya dibawakan oleh Kak Bie, berjudul membuat kolam. Dongeng selanjutnya dibawakan oleh Kak Bonchie, kisah Sisi dan Lala. Kemudian Kak Yani yang kembali membawakan kisah Conejito. “Seru, Seru, Seru!”

Persembahan terakhir di Dongeng Kejutan Negeri Berselimut kabut Rumah Belajar Sangka Bira adalah Musical Storytelling yang dibawakan oleh Kakak-Kakak relawan Ayodi yang membawakan dongeng pertama mereka secara kolosal. Selain dengan Musical Storytelling, dongeng ini juga menggunakan media finger puppet. Ada Kak Dian, sebagai kupu-kupu yang menjelajahi beraneka habitat teman-temannya, ada Kak Citra sebagai paus yang lautnya tercemari sampah, dan penyu yang kakinya terjerat sampah. Ada Kak Klara sebagai panda yang air minumnya tercemari sampah plastik di Negeri China sana. Ada juga Kak Itha, si sikus! Yang ternyata menjadi biang keladi dari polusi tersebut. Tikus senang membuang sampah sembarangan, dan hal tersebut mengganggu habitat hewan-hewan lainnya. Kalau kamu suka buang sampah sembarangan juga, nggak?

“Angsa bermain di telaga, Elang terbang di angkasa
Paus renangi samudera..
Jerapah ada di Afrika, Pinguin dari Antartika
Harimau dari Sumatera..
Mereka Hidup sesuai dengan habitatnya..”

Lagu ‘Habitat’ gubahan Kak Dandi menutup dongeng kejutan Sangka Bira. Acara diakhiri dengan penyerahan buku secara simbolik yang diwakili oleh Kakak-Kakak relawan AyoDI kepada Rumah Belajar Sangka Bira. Buku-buku yang di donasikan dalam Dongeng Kejutan Negeri Berselimut Kabut merupakan donasi dari penerbit buku PiBo, Mizan, Kitabercerita.id, Para Pengajar Bahasa Inggris melalui Kak Ratih Soe, Kak Arleen, dan Kak Rio Haminoto, dan Kakak-Kakak yang sudah mendonasikan buku melalui AyoDI. Kami ucapkan terimakasih sebesar-besarnya.


20 Agustus 2017,

Petualangan para penjaga mimpi di Negeri Berselimut Kabut telah sampai di penghujung perpisahan. Minggu pagi, Kakak-Kakak relawan AyoDI bersiap untuk pulang. Berbekal pengalaman, pembelajaran, dan banyak kesan dalam petualangan di Negeri Kabut. Matahari masih berselimut, seakan enggan melepas kami pamit. Si cantik Rinjani semakin elok terpapar bias mentari yang malu-malu merangkak.

Desa Sembalun yang ramah, Bukit Selong, Pegangsring, bahkan hawa dingin kaki Rinjani tidak akan kami lupakan begitu saja. Tawa, canda dan bahagia yang kami dapat dari senyum dan binar mata adik-adik selamanya menjadi kisah. Di tiap-tiap sanubari kami yang masih akan menjaga mimpi mereka. Selamat tinggal Lombok. Semoga kami semakin Berjiwa Lomboq, dan berperilaku Sangka Bira.

Kategori Berita oleh Zulfahmi pada 28 Aug 2017